Kamis, 10 September 2009

Analisis Novel Merahnya Merah

ANALISIS NOVEL
MERAHNYA MERAH
Karya: Iwan Simatupang

A. Sinopsis
Suasana keluarga Pernama yang awalnya selalu damai dan tentram tiba-tiba suasana itu berubah, penuh dengan penderitaan baik lahir maupun batin bagi anak dan istrinya. Hal ini penyebabnya yaitu semenjak Permana diberhentikan dari perusahaan tempatnya bekerja tanpa alasan yang jelas. Setelah pemecatan itu lelaki yang sebelumnya dikenal bijaksana berubah menjadi seorang kepala keluarga yang kasar karena sering menyiksa anak dan istrinya. Apapun yang dilakukan mereka bagi Permana salah hingga ia menyiksa mereka secara berlebiham. Selama Permana menjadi pengangguran, istrinyalah yang bekerja keras untuk mencari nafkah. Permana merasa tidak berarti menjadi seorang ayah dan seorang suami. Karena dalam benak Permana selalu terbayang bahwa istrinya telah berbuat selingkuh. Saleha pun tak mampu membantahnya, karena kalau hal itu sampai terjadi Permana pasti langsung terasa hancur karena usaha keras yang telah ia lakukan seakan tidak berarti, dia merasa terhina. Namun Saleha tetap bertekad dan bertahan menghadapi semua cobaan itu karena ia sungguh-sungguh tidak ingin keluarganya menjadi hancur.
Selain istrinya, Permana juga sering menyiksa Ida yaitu anak semata wayangnya. Tanpa alasan yang tepat, ia menampar, memukul bahkan menyabet gadis itu dengan rotan. Akibat perbuatan ayahnya itu, Ida siswi sebuah SMA ini menjadi takut, ngeri dan benci terhadap ayahnya tidak lain adalah Permana. Permana yang berkelakuan kasar menjadi agak reda oleh kedatangan Sumarto, seorang lelaki muda dari Bandung yang ingin kost di rumah keluarga Permana. Kehadiran Sumarto di rumahnya membuat Permana sedikit lega karena ada sedikit pemasukan yang bulanan. Tidak disangka, ternyata Ida adalah orang yang paling senang atas kehadiran Sumarto. Karena bagi Ida yang selama ini tidak mempunyai teman untuk membagi cerita duka akibat perlakuan ayahnya, sekarang Ida telah mendapatkan orang yang tepat. Apalagi Sumarto adalah pemuda yang ramah, sopan, dan cepat menyesuaikan diri dengan keluarga Permana. Mereka berdua sering bertemu dan berbincang-bincang akibatnya munculah benih-benih cinta di hati mereka. Hingga mereka menjalin hubungan kasih yang mesra. Bahkan suatu ketika keduanya tidak dapat menguasai diri hingga mereka melakukan perbuatan yang melanggar larangan agama. Lama-lama pak Permana mengetahui gelagat yang menyangkut hubungan Sumarto dengan anaknya, hingga akhirnya Sumarto diusir secara halus oleh Permana. Sumarto akhirnya meninggalkan kekasih yang sangat dicintainya itu. Permana dan istrinya kaget ketika pembantunya mengatakan bahwa Ida sedang hamil. Mereka pun sepakat untuk menggugurkan kandungan Ida. Diam-diam Saleha pergi ke seorang dukun untuk mendapatkan ramuan obat untuk anaknya. Setelah minum obat, Ida merasakan sakit hingga ia dirawat di rumah sakit. Dokter terpaksa mengangkat rahimnya sehingga ia tidak akan bisa mempunyai keturunan. Pengalaman pahit yang dialami Ida membuatnya frustasi dan menderita menghadapi kenyataan ini.
Sumarto yang mengetahui hal itu terus dibayangi oleh perasaan menyesal dan dosa. Hingga ia melakukan pengukuran dosanya pada Romo Mordianto. Dia minta maaf sekaligus melamar Ida. Ia membawa Ida ke pastornya. Saleha dan suaminya dengan berat hati merelakan anaknya. Setelah menikah Ida ikut dengan suaminya. Tetapi ia sedang sakit. Ketika sakit, ia terburu-buru menuju ke keran air untuk cuci muka, kakinya terantuk meja hingga ia jatuh ke lantai. Suster yang mengetahui peristiwa itu heran. Keadaan Ida mencemaskan hingga suster sempat membisikkan ‘Allahu Akbar, la illaha illallah” di telinga Ida. Ida pun sayup-sayup menirukannya setelah itu Ida meninggal. Ia dimakamkan di kuburan Katolik atas permintaan keluarga Sumarto kerena ia telah dibaptis. Kematian Ida membuat Permana sangat menyesal. Batin dan pikirannya hancur dan kacau. Hingga ia tidak mau meninggalkan kuburan anaknya karena penyesalannya itu, Permana kemudian menjadi gila.

B. Makna Psikologis
Terdapat makna psikologis dalam novel ini. Pemecatan hubungan kerja yang diderita oleh Permana menyebabkan ia kehilangan kontrol diri sehingga keadaan keluarga yang semula tentram berubah menjadi seperti berantakan. Pemecatan itu menyebabkan Permana menderita yang menimbulkan penderitaan lahir dan batin juga pada anak dan istrinya. Setelah pemecatan itu Permana menjadi berubah, dulu ia sangat bijaksana tetapi sekarang ia menjadi seseorang yang kasar dan sering menyiksa istrinya. Bahkan Permana tega mencurigai istrinya dan mengira kalau istrinya selingkuh di tempat kerjanya dengan rekan kerjanya. Permana juga merasa tidak berarti sebagai seorang suami dan sebagai ayah. Saleha itu istri Permana sering disiksa, ditendang, dipukul bahkan ditampar olehnya jika ia berani menjelaskan atau membantah kata-katanya. Namun Saleha tetap bertahan menghadapi semua itu karena ia tidak ingin keluarganya menjadi hancur. Selain Saleha, Ida juga sering disiksa olehnya. Tanpa alasan jelas Ida sering ditampar, ditendang bahkan dipukul. Perlakuan Permana menjadi berkurang setelah kedatangan Sumarto yang kos di rumahnya sehingga mampu menghasilkan pendapatan, Sumarto membuat Ida jatuh cinta padanya hingga suatu saat mereka menikah karena hamil terlebih dahulu. Setelah menikah Ida terpaksa berpindah agama Katolik yang membuatnya dibaptis oleh seorang Pastur. Karena Saleha malu terhadap aib itu. Ia menggugurkan kandungan Ida yang akhirnya membuat Ida sakit. Ketika sakit, Ida berusaha untuk bangun namun ia justru terjatuh dan meninggal dunia. Tetapi sebelum meninggal Ida sempat mengucapkan kalimat Syahadat yang didengar oleh suster yang merawatnya. Lalu Ida dimakamkan di kuburan Katolik atas permintaan keluarga Sumarto. Karena penyesalannya Permana menjadi gila dan tidak mau meninggalkan kuburan anaknya.

ANALISIS NOVEL
SENJA DI JAKARTA
Karya: Mochtar Lubis

A. Sinopsis
Raden Kaslan yaitu seorang anggota dewan Partai Indonesia merencanakan untuk mendirikan perusahaan-perusahaan fiktif yang bergerak dalam usaha ekspor-impor barang-barang kebutuhan rakyat. Ia mencatumkan nama istrinya yaitu Fatma karena ia juga ikut mendukung perusahaan fiktif yang dilakukan oleh suaminya dan ia juga mencatumkan nama anak tunggalnya yaitu Suryono Husni Lumbara serta beberapa rekan separtainya untuk menjabat direktur pada perusahaan tersebut. Rencana itu terlintas di benak Raden Kaslan ketika ia mendapat kepercayaan dari Husni Lumbara untuk menangani penyediaan dana bagi partai Indonesia yang dipimpin oleh Husni Lumbara.
Salah satu orang yang dipercaya menjabat direktur perusahaan fiktif tersebut adalah anak tunggalnya yaitu Suryono yang menjadi pegawai kementrian luar negeri. Selain itu ia juga berprofesi sebagai penghibur wanita-wanita kesepian tingkat atas. Ia juga baru saja menyelesaikan tugas dinasnya di luar negeri. Tetapi ia merasa tidak puas terhadap fasilitas yang diperolehnya. Oleh karena itu, ketika ayahnya memaksanya untuk keluar dari pekerjaannya dan mengajaknya untuk menjabat direktur di beberapa perusahaan, ia langsung menyambutnya dengan senang hati. Orang berikutnya yang juga menjabat direktur perusahaan fiktif tersebut bernama Sugeng, seorang pegawai negeri yang selalu dituntut istrinya untuk memenuhi kebutuhan materi yang melebihi kemampuannya hingga ia langsung menerima tawaran tersebut. Berbeda halnya dengan seorang pegawai negeri lainnya yang bernama Rusdi, lelaki itu tidak tergiur oleh jabatan direktur perusahaan fiktif. Meskipun istrinya Dahlia, selalu menuntut kebutuhan materi yang berlebihan, ia tetap menjadi pegawai negeri. Akibatnya Dahlia lari ke pangkuan Suryono yang mampu memenuhi semua kebutuhan materinya ketika suaminya tidak berada di rumah.
Perusahaan fiktif yang dijalankan Raden Kaslan berhasil meraih keuntungan yang sangat besar sehingga membuat orang-orang terlibat di dalamnya bisa menjalani hidup dengan bahagia dan serba kecukupan. Pak Iji dan istrinya harus berjuang untuk menahan lapar dan menghidupi dirinya dan keluarganya. Begitu juga dengan Neneng, seorang wanita yang harus menjadi pelacur karena tak kuat menahan lapar. Mereka semua hidupnya memprihatinkan, serba susah dan kekurangan. Semua itu terlepas dari perhatian Raden Kaslan dan para direktur fiktif. Sungguh kehidupan rakyat itu berlawanan dari kehidupan Raden Kaslan serta rekan-rekannya yang hidupnya jauh lebih berkecukupan, makmur dan mapan. Sehingga mereka bisa hidup bahagia.
Namun kesenangan Raden Kaslan dan rekan-rekannya tidak berlangsung lama. Semua itu hanya terjadi tiba-tiba. Ketika koran-koran terbit di Jakarta memuat berita tentang perseteruan antar partai, yang salah satunya membicarakan masalah perusahaan fiktif itu. Raden Kaslan dan beberapa rekannya ditangkap pihak keamanan, sedangkan Suryono dan Ratna mencoba melarikan diri. Ketika mereka melarikan diri kendaraan yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan di puncak. Akhirnya Fatma menderita luka-luka, sedangkan Suryono meninggal dunia setelah menjalani perusahaan di rumah sakit Bogor.

B. Makna Semiatik
Novel yang berjudul Senja di Jakarta ini mengandung makna semiotik yang mengisahkan kehidupan seseorang anggota Dewan Partai Indonesia yaitu Raden Kaslan. Ia merencanakan untuk mendirikan perusahaan-perusahaan fiktif yang akan dibantu oleh istrinya, anak tunggalnya yaitu Suryono beserta beberapa rekannya. Yang akhirnya perusahaan dipimpin oleh Suryono. Semakin lama perusahaan fiktifnya semakin maju dan sukses. Perusahaan fiktif yang mereka jalankan mampu meraih keuntungan yang sangat besar sehingga membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya mampu menjalani hidup bahagia bagaikan surga dunia. Tetapi karena kemewahannya itu mereka tidak memperhatikan dan mempedulikan sama sekali keadaan orang-orang miskin disekitarnya. Hingga akhirnya ia mendapat Banyak peringatan yang berupa cobaan yang menimpa dirinya. Setelah menikmati kemewahan, Raden Kaslan dan teman-temannya mengalami perseteruan antar partai yang membuat Raden Kaslan dan rekannya ditangkap oleh pihak keamanan. Sedangkan Suryono dan Fatma mencoba melarikan diri. Namun kendaraan yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan yang membuat Fatma menderita luka-luka sedangkan Suryono meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit.

ANALISIS NOVEL
CANTING
Karya: Aswendo Atmowiloto

A. Sinopsis
Keraton Surakarta digegerkan oleh pengakuan bahwa Raden Ngabehi Sastrokusumo yang ingin menikah dengan Tuginem. Tuginem adalah seorang gadis salah seorang buruh pabrik tradisional batik milik Raden Ngabehi. Raden Ngabehi adalah seorang pengusaha batik tradisional merek Canting di Solo, keturunan darah biru, kaya, setia, serta dihormati dan disegani oleh banyak orang. Maka tidak heran jika pernikahan mereka mendapat banyak tantangan dari keluarga keraton. Meskipun demikian pernikahan itu tetap dilaksanakan. Rumah tangga merekapun bahagia sekali. Tuginem atau lebih sering disebut Ibu Bei diam-diam membantu suaminya memajukan usaha batik canting. Dan hasilnya usaha batik merk Canting milik mereka mampu berkembang pesat. Meskipun sibuk dalam usaha batik, Ibu Bei tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga untuk melayani suami dan anak-anaknya dengan baik. Hasilnya keenam anaknya bisa sukses dan membanggakan. Wahyu Dewabrata menjadi Dokter, Lintang Dewanti menjadi istri Kolonel, Bayu Dewasunu menjadi seorang Dokter Gigi, Ismaya Dewakusuma menjadi seorang Insinyur, Wening Dewamurti menjadi Dokter dan kemudian menjadi Kontraktor yang sukses, serta Subandini Dewaputri anak sulung yang menjadi Sarjana Farmasi. Namun kekuatan Ibu Bei yang sudah tua tidak mampu lagi mengurus usaha batik dan keluarganya. Kemampuannya dalam mengurusi para pedagang di Pasar Klewer Solo mulai menurun. Padahal batik canting yang dihasilkannya mulai mendapat saingan berat dari produk pabrik besar yang lebih modern.
Subandini Dewaputri, putri bungsu Raden Ngabehi Sastrokusumo melihat usaha batik canting milik orang tuannya mulai menurun, hal ini membuat hatinya tergugah untuk mengambil alih usaha batik batik canting tersebut. Dia tidak ingin melihat usaha batik itu hancur sia-sia, namun keinginannya itu sempat ditentang oleh kakak-kakaknya yang kemudian mengakibatkan terjadinya perselisihan di antara mereka. Tetapi semua itu bisa diselesaikan oleh ayahnya yaitu Raden Ngabehi Sastrokusumo dengan penuh bijaksana. Tidak lama kemudian Ibu Bei meninggal dunia karena penyakitnya itu. Akhirnya Subandini bertekad mengambil alih usaha batik canting itu, ia berusaha menghadapi persaingan dengan batik-batik dari pabrik-pabrik besar tetapi ia kalah bersaing penjualan semakin merosot. Hingga ia frustasi dan akibatnya menjadi sakit bahkan hampir meninggal dunia karena sakit yang dideritanya. Tetapi sakitnya itu justru menimbulkan kesadaran dalam dirinya untuk memahami mengapa usaha batiknya tak dapat bersaing dengan produk keluaran pabrik lain. Hal itu disebabkan oleh masalah merk. Akhirnya dia memutuskan untuk mengubah merk canting menjadi Canting Daryono. Dengan nama baru itu, Ni meneruskan usaha batik tradisional milik keluarganya. Ia kembali bangkit dan sembuh dari sakitnya.
Usaha batik pun secara perlahan mampu bersaing dipasaran dengan bantuan dari kakak-kakaknya, mereka saling bekerja sama, hingga batik mereka tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi mulai dikenal oleh orang asing. Akhirnya Ni menikah dengan Hermawan, pria pilihan hatinya yang telah lama menunggunya. Pesta perkawinan pun dilaksanakan tepat pada hari selamatan setahun meninggalnya Ibu Bei, pengelola batik canting yang melegendaris dalam keluarga besar Sastrokusumo.

B. Makna Feminisme
Peran wanita yang bersifat feminisme tampak dalam Bu Bei ia mampu melaksanakan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga yang tegar, sabar dan bijaksana. Selain menjalankan tugas rumah tangga ia juga membantu Raden Ngabehi yaitu suaminya dalam menjalankan bisnis batik canting. Selain itu ia juga sangat perhatian dan dengan penuh kasih sayang ia merawat anak-anaknya. Selain Bu Bei, peran feminisme tampak pada tokoh Ni yang merupakan seorang wanita yang tegar, ia mampu menyelesaikan setiap masalah yang sedang menghadangnya. Sebagai anak sulung Ni merasakan suatu kewajiban untuk memajukan bisnis batik milik orang tuanya yang mulai redup. Meskipun sedang sakit Ni beruaha sekuat tenaga untuk tetap berkorban demi semua itu. Pengorbanan Ni yang luar biasa itu akhirnya membuahkan hasil. Batik canting miliknya mulai bersaing lagi dengan batik-batik lainnya. Hanya dengan mengganti sebuah merk usaha bisnis batik miliknya berkembang lagi. Selain itu sebagai seorang ibu rumah tangga Ni tetap menjalankan kewajibannya yaitu mengurusi anak-anaknya, seperti yang telah dilakukan oleh ibunya dulu ketika masih hidup.

ANALISIS NOVEL
RONGGENG DUKUH PARUK
Karya: Ahmad Tohari

A. Sinopsis
Dukuh Paruk adalah suatu daerah yang sedang mendapat anugerah, ketika ada gadis yatim piatu yang berusia sebelas tahun dinobatkan menjadi Ronggeng, namanya adalah Srintil. Penduduk pun dengan gembira menyambutnya sebab hal itu adalah citra Dukuh Paruk sebagai Dukuh Ronggeng yang bangkit lagi. Daerah yang kering kerontang akan diramaikan lagi dengan tamu dari berbagai desa, uangpun berlimpah di atas panggung ronggeng Srintil. Suasana damai dan gembira melingkupi para pesaing yang memperebutkan ronggeng Srintil. Harumnya keramatnya Ki Secamenggala kembali menyelimuti Dukuh Paruk.
Seorang paling bahagia dengan penobatan Srintil sebagai ronggeng adalah Sukarya dan istrinya yang merupakan kakek dan nenek Srintil. Mereka merasa usaha mengasuh Srintil tidak sia-sia, sejak kedua orang tua Srintil meninggal karena keracunan tempe bongkrek sebelas tahun yang lalu. Hingga mereka berhasil untuk menjadikan Srintil sebagai seorang ronggeng direstui oleh keramat dukung ronggeng, Ki Secamenggala.
Namun seroang pemuda bernama Rasus merasa sangat kecewa dan sedih mendengar penobatan Srintil sebagai ronggeng Dukuh Paruk. Ia sangat mencitai Srintil, kekasihnya itu. Ia beranggapan bila Srintil menjadi ronggeng, berarti Srintil menjadi milik semua orang. Setiap orang bebas meniduri Srintil karena memang begitulah kehidupan menjadi seorang ronggeng, Srintil harus menyerahkan keperawanannya kepada Ki Kertareja, seorang dukun di Dukuh Paruk. Rasus mengetahui bahwa orang yang mendapatkan kesucian Srintil yang pertama adalah Dower dan Sulam. Karena mereka telah memenangkan sayembara yang diadakan Ki Kertareja. Mereka pun menyuap Ki Kertareja untuk memenangkan sayembara dengan menyembahkan seringgit uang emas oleh Sulam dan menyerahkan seekor kerbau dan dua rupiah yang perak oleh Dower.
Pada suatu malam yang sudah ditentukan, Srintil pun dinobatkan menjadi seorang ronggeng Dukuh Paruk. Ketika itu diam-diam Rasus memperhatikan kejadian itu dari jauh. Srintil dibawa ke makam ke Secamenggala untuk dimandikan, setelah dimandikan, Srintil menjalani tahap berikutnya yaitu menjadi budak kelambu menyerahkan keperawanannya kepada orang yang telah memenangkan sayembara itu yaitu Sulam dan Dower pemuda yang kurang ajar di Dukuh Paruk. Pada malam itu, kedua pemuda malah bertengkar dan saling memperebutkan giliran yang paling berhak meniduri Srintil pertama kali. Rasus, diam-diam mendengar pertengkatan itu, karena ia sempat melihatnya. Tanpa diduga saat Rasus sedang sedih mendengar pertengkaran tadi, tiba-tiba Srintil menghampiri Rasus yang sedang bingung di belakang rumah dukun Kertareja. Srintil mohon pada Rasus agar bersedia mengganti dirinya waktu itu. Setelah pemuda Rasus selesai menggauli Srintil barulah Dower dan Sulam datang.
Setelah menggauli Srintil, gadis yang sangat dicintai, Rasus meninggalkan Dukuh Paruk. Dia meninggalkan Srintil, gadis yang paling dicintai sekaligus paling dibenci saat itu, karena Srintil telah menjadi seorang ronggeng yang akan menjadi milik orang banyak. Rasus pun mengasingkan diri di Desa Dawuran, ia merenung. Ia mencoba menyingkirkan bayangan Srintil bahkan dengan tegas ia sempat menolak permintaan Srintil untuk menjadikan suaminya. Rasus memilih memutuskan untuk meninggalkannya dan mengalah serta membiarkan Srintil menjadi milik orang banyak untuk menjadi ronggeng yang membanggakan Dukuh Paruk. Tetapi keputusan itu dan semua peristiwa yang telah terjadi pada diri Srintil justru membuat Srintil menjadi gila pada akhirnya. Srintil stres karena di usianya yang masih dini, ia harus menjadi seorang ronggeng yang harus bersedia menjadi milik banyak orang. Selain itu Srintil juga stres karena ia tidak bisa hidup bersama dan bahagia dengan laki-laki yang sangat disayangi dan dicintainya untuk menjadi ronggeng di Dukuh Paruk.
B. Makna Feminisme
Novel yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk ini menceritakan kehidupan atau kisah seorang perempuan yang menjadi ronggeng. Sehingga perempuan itu harus rela kehilangan keperawanannya untuk pria manapun yang bahkan tidak dikenal olehnya yang penting mampu membayarnya dengan tarif tinggi. Dia harus menjadi seorang ronggeng yang disukai oleh semua orang meskipun ia harus mengabaikan kekasih hatinya. Tekad yang ia miliki tidak dapat dicegah oleh siapa pun, karena ia telah menyerahkan kesuciannya semenjak usianya masih muda meskipun orang yang mampu mencoreng kesuciannya itu adalah kekasihnya sendiri.

ANALISIS NOVEL
KHUTBAH DI ATAS BUKIT
Karya: Kuntowijoyo

A. Sinopsis
Barman adalah seorang laki-laki tua yang sejak muda hidupnya selalu berpindah tempat tinggal, ia hidup bersama anaknya yaitu Boby, sedangkan istrinya meninggal dunia sejak Bobi masih kecil. Setelah istrinya meninggal dunia, Barman sering hidup bersama pelacur untuk bersenang-senang. Kehidupannya pun sangat mewah dan serba kecukupan. Sehingga baginya wanita adalah dunia yang sangat mengasyikan. Setelah pensiun sebagai Diplomat, Barman kembali ke tanah air. Ia membuka usaha bidang percetakan namun lama-lama usaha tersebut membuatnya bosan dan jenuh. Hingga Bobi menyarankan agar Barman mau pergi ke bukit bersama Popi wanita yang telah dipilih oleh Bobi. Kehidupan Barman dan Popi sangat bahagia, karena Popi selalu setia mendampingi Barman. Ia membuat Barman bangga. Tetapi Barman justru merasa gelisah karena ia selalu gagal dalam menikmati malam bersama Popi, terutama setelah ia bertemu dengan Human. Barman dan Human sangat akrab hingga mereka menjalin persahabatan antara dua laki-laki yang mempunyai postur tubuh yang sama. Tetapi Barman merasa bingung setelah mendapatkan pelajaran dari Human yang mengatakan bahwa milikmu adalah belenggumu. Setelah lama ia berpikir, Barman pun merasa bersalah karena meninggalkan Popi. Tak lama kemudian Human meninggal. Setelah kematian Human, Barman menjalankan ajaran Human secara misterius.
Setelah kematian Human, Barman memperoleh warisan yang berupa rumah yang ditempati Human dulu. Ia merasa cukup bahagia hidup atau tinggal di tempat itu. Pada saat ia merasakan kebahagiaan itu tiba-tiba ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang pasar, ia selalu berkata, “Berbahagialah engkau”. Setelah esok harinya pasar gempar. Hal itu disebabkan oleh orang-orang yang menceritakan bahwa mereka menyimpulkan bahwa mereka itu tidak mimpi atau ia meresa kalau peristiwa itu benar-benar ada atau nyata. Mendengar kabar yang membahagiakan itu, mereka berdondong-bondong mengunjungi rumah Barman untuk meminta kebahagiaan. Tetapi orang-orang sampai di Bukit, Barman justru merasa bingung harus berbicara apa dengan orang-orang itu. Akhirnya ia mampu mengucapkan khutbahnya dengan berkata bahwa “Hidup ini tidak berharga untuk dilanjutkan, bunuh dirumu”. Mendengar pernyataan dari Barman tersebut membuat semua orang ricuh sebagai konsekuensi dari khutbahnya, Barman pun bunuh diri tanpa sepengetahuan orang-orang disekitarnya. Dengan cara terjun ke jurang ia mengakhiri hidup dan masa depannya. Setelah Barman meninggal dunia, peristiwa itu disusul dengan kematian Pak Jaga. Namun ia tidak dapat ditemukan. Hal inilah yang membuat seluruh orang pasar menjadi gempar, mereka berbondong-bondong mencari keberadaan mayat Pak Jaga, namun sayangnya mereka tetap tidak mampu menemukan mayat Pak Jaga. Suasana pasar benar-benar ricuh, apalagi tukang sapu itu, ia hanya bisa merenung. Pada akhirnya Popi pun meninggakan rumah itu. Ia menemui sopir truk dan ia segera melepaskan hasratnya yang selama ini ia pendam pada orang yang disayanginya.

B. Makna Psikologis
Berdasarkan sinopsis tersebut, novel ini mengandung beberapa fenomena yang berkaitan dengan kejiwaan yang tampak dalam perilaku tokoh-tokohnya. Novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang tokoh bernama Barman yaitu pensiunan diplomat. Barman ditinggal mati oleh istrinya semenjak anaknya masih kecil yaitu Bobi. Memang kehidupannya mewah yang disertai wanita cantik yang selalu menemaninya. Sehingga yang ia inginkan selalu ia peroleh. Sebagai rasa hormat, Bobi menyuruh Barman untuk menghabiskan sisa hidupnya di bukit dengan ditemani Popi, wanita cantik itu. Gadis cantik itu selalu membuat Barman bahagia. Kemudian di bukit itu Barman bertemu dengan Human yaitu seseorang sahabat yang selalu memberi nasihat kepada Barman. Sebelum Human meninggal ia berpesan bahwa milikmu adalah belenggumu. Setelah itu hari-hari Barman menjadi sepi karena ditinggalkan oleh sahabat tercintanya. Akhirnya Barman meneruskan ajaran Human, kehidupannya dikelilingi banyak orang yang percaya bahwa ia adalah dewa. Rumahnya selalu dipenuhi orang mereka menanam bunga-bunga di rumah peninggalan Human. Akhirnya Barman memutuskan untuk pergi ke atas bukit, disana orang-orang sudah menunggunya, mereka meminta kebahagiaan padanya. Barman tidak bisa bicara apa-apa, kecuali “Hidup ini tidak berharga untuk dilanjutkan, maka bunuhlah dirimu”. Seketika setelah mengucapkan kalimat itu Barman mati bunuh diri dengan menjatuhkan diri ke jurang. Peristiwa itu membuat kaget semua orang. Setelah kematian Barman, Popi pergi bersama sopir truk yang tak lain adalah kekasihnya.

ANALISIS NOVEL
KEMARAU
Karya: A.A. Navis

A. Sinopsis
Musim kemarau yang panjang yang melanda di negara ini membuat para petani berputus asa. Hal ini disebabkan oleh keadaan sawah dan ladang mereka yang kering karena tidak ada air hingga panasnya sangat menyengat tubuh. Dengan keadaan yang seperti ini membuat para petani tidak sanggup lagi untuk menggarap sawah mereka apalagi untuk mengairinya. Sedangkan yang mampu mereka saat ini hanyalah bermalas-malasan dan asyik bermain dengan kartu saja. Tetapi hal itu tidak dilakukan oleh semua petani. Salah satu orang yang tidak melakukan hal itu adalah Sutan Duano. Meskipun dalam keadaan kemarau dan kering, ia tetap semangat dan berusaha untuk mengairi sawahnya tetap tumbuh subur. Tanpa menghiraukan rasa panas yang membakar tubuhnya, Sutan Duano tetap bekerja keras. Hingga Sutan Duano berharap agar petani lain bersedia mengikuti caranya itu. Untuk meyakinkan teman-temannya ia juga sempat memberikan ceramah kepada ibu-ibu pengajian di surau mereka. Tetapi tak satupun petani yang mau menghiraukan ceramahnya apalagi mengikuti langkah-langkah yang disarankannya. Hingga suatu hari ada seorang anak kecil yang berumur kurang lebih dua belas tahun bernama Acin. Ia rajin membantu Sutan Duano untuk mengairi sawahnya. Melihat semua yang dilakukan Sutan Duano dan Acin, penduduk desa bukannya mencontoh atau meniru apa yang mereka lakukan tetapi penduduk desa justru mempergunjingkan dan menyebarkan fitnah tentang Sutan Duano bahwa dia mencoba mendekati dan mencari perhatian Gundam, yang tak lain adalah Ibu Acin yang saat itu ia berstatus sebagai janda yang mempercayai gunjingan itu. Tetapi Sutan Duano tetap bersikap tenang dan ia tetap tidak menanggapinya meskipun gunjingan tentang dirinya semakin memanaskan hati dan telinga Sutan Duano.
Pada suatu hari Sutan Duano menerima telegram dari Masri, yaitu anak Sutan Duano yang sudah dua puluh tahun disia-siakannya. Ia dimintanya ke Surabaya. Dalam hati Sutan Duano ingin mengunjungi anak semata wayangnya namun di sisi lain ia tidak mau meninggalkan bocah kecil yang masih membutuhkan bimbingannya. Setelah di pertimbangkan, akhirnya Sutan Duano memutuskan untuk pergi ke Surabaya mengunjungi anak-anaknya Masri. Setelah Sutan Duano pergi, penduduk desa merasa kehilangan dia, karena mereka telah membuktikan bahwa semua saran yang diajarkan olehnya telah dijalankan penduduk desa dan menuahkan hasil. Penduduk desa menyesali perbuatannya yang pernah salah sangka terhadap Sutan Duano. Akhirnya Sutan Duano berangkat ke Surabaya. Namun sesampainya di Surabaya hati Sutan Duano hancur ketika bertemu dengan mertua anaknya. Mertua anaknya itu ternyata adalah Iyah, mantan istrinya yang tak lain adalah Ibu Masri. Hal itu membuat Sutan Duano marah pada mantan istrinya karena telah menikahkan dua orang bersaudara. Saking marahnya ia mengancam akan memberitahukan hal itu pada Masri dan Arni. Namun Iyah tidak setuju hingga ia terpaksa mencegah Sutan Duano dengan memukul kepala mantan suaminya dengan sepotong kayu. Namun Arni datang dan menghalanginya hingga Sutan Duano bisa diselamatkan, Iyah yang melihat mantan suaminya bersimpah darah merasa menyesal kemudian ia memberitahukannya kepada Arni, bahwa Sutan Duano adalah mantan suaminya. Arini sungguh terkejut mendengar pernyataan itu. Kemudian ia menceritakan pada Masri suaminya dan mereka pun sepakat untuk bercerai. Karena penyakit yang sudah lama dideritanya, tak lama kemudian Iyah meninggal dunia. Sutan Duano pun kembali ke desa lalu menikah dengan Gundam, seorang wania yang sudah lama dikabarkan oleh penduduk desa akan dinikahi Sutan Duano sebelum ia berangkat ke Surabaya. Akhirnya mereka hidup bersama di sebuah desa dengan bahagia.

B. Makna Semiotik
Novel ini menggambarkan tentang kehidupan masyarakat Minangkabau yang mempelajari ilmu agama secara setengah-setengah mereka hanya menyerah pada nasib. Hal yang mereka lakukan untuk mengatasi kesulitan hidup mereka hanya menyerah pada nasib dengan berdoa. Kelakuan masyarakat Minangkabau seperti itu dipertentangkan dengan tindakan salah seorang masyarakat Minangkabau juga yang digambarkan melalui tokoh utamanya yaitu Sutan Duano. Tokoh ini memahami ajaran agama Islam. Sehingga sewaktu dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Minangkabau yang juga bekerja sebagai petani. Tetapi seorang laki-laki yang sudah lumayan tua itu justru berusaha meyakinkan para petani untuk tetap mengairi sawahnya walaupun kemarau. Memang awalnya pendapat atau saran Sutan Duano sempat ditolak bahkan tidak digubris oleh sebagian masyarakat Minangkabau. Namun, setelah dipikir-pikir, akhirnya masyarakat Minangkabau menjadi sadar dan menerima saran dari Sutan Duano. Bahkan mereka juga menjalankan sarannya dengan mengairi sawahnya meskipun kemarau.

ANALISIS NOVEL
MERAHNYA MERAH
Karya: Iwan Simatupang
ANALISIS NOVEL
MERAHNYA MERAH
SINOPSIS
Di dalam novel ini diceritakan bahwa tokoh kita diperlakukan sebagai seorang gelandangan kota barat. Dia dikenal seorang komandan sewaktu sebelum meletusnya revolusi fisik, tokoh kita sangat dihormati dan dicintaidi dalam komunitas gelandangan muncul wanita bernama Maria yang memiliki perhatian terhadap tokoh kita. Maria memiliki masa lalu yang suram ia juga pernah diperkosa. Keduanya menjalin hubungan yang mesra. Suatu hari muncu seseorang bernama Fifi wanita berusia 14 tahun., dia adalah anak seorang pelacur. Suatu ketika fifi menghilang dan semua gelandanganpun resah akhirnya pak Centeng putus asa karena tokoh kita juga menghilang, itu membuat pikirannya gelisah. Pak Centeng malu karena gagal mencari Fifi dan tokoh kita. Tak lama kemudian tokoh kita muncul dan pertanyaanpun dilontarkan padanya. Ternyata Fifi mati dibunuh Maria. Akhirnya Maria masuk biara dengan bertaubat, mendengar cerita itu para gelandangan terharu dan lega mendengar itu. Yang disalahkan dalam hal ini adalah tokoh kita, karena sebelum kedatangan tokoh kita kampung terasa aman. Maria adalah kekasih pak Centeng, munculnya tokoh kita membuat masalah dalam kampung itu . Golok tajam diayunkan ke leher tokoh kita oleh pak Centeng , Polisi pun terlanjur datang dan menghalanginya. Kenekatan pak Centeng membuat kepalanya tertembak peluru polisi. Keduanya tergeletak tak bernyawa , Keduanyapun dikuburkan dalam upaca militer .Pejabat tinggi Negarapun ikut menghadiri pemakaman itu.
MAKNA SEMIOTIK
Kehidupan di sebuah kota besar dengan komunitas para gelandangan . Persahabatan dan kekompakan yang dirasakan dalam komunitas itu , tapi semua berakhir dengan kedatangan anggota baru yang bernama Fifi, tokoh kita yang
sebelumnya disukai temannya sendiri yang bernama Maria , akhirnya suka pada anggota cantik yang menjadi anggota baru itu. Maria pun cemburu ,Akhirnya Maria meninggalkan komunitas itu dan tak lama kemudian Maria berubah menjadi seorang biarawati, itu dilakukan untuk menebus kesalahan karena telah membunuh fifi. Tokoh kita pun juga menghilang dan memisahkan diri dengan komunitas gelandangannya. Tokoh kita akhirnya meninggal oleh tangan temanya sendiri yang dulu menyukai Maria.

ANALISIS NOVEL
SAMAN
Karya: Ayu Utami

A. Sinopsis
Laila adalah seorang gadis yang cantik, lugu, dan ramah. Ia mendapat dua kesempatan sekaligus, yang pertama berhubungan dengan pembuatan profil perusahaan tekstil Indonesia. Sedangkan yang kedua, ia menjadi fotografer yang akan menulis buku tentang penyebaran minyak di Asia Pasifik atas nama Petrolium Extension Servis. Kesempatan ini sangat mewarnai kehidupan Laila, karena perjalanan Laila berlanjut, yang berawal di tempat itu Laila bertemu dengan seorang laki-laki yang menjadi idamannya. Laki-laki itu bernama Sihar. Suatu hari di pabrik pertambangan itu, Sihar bertengkar dengan salah satu pimpinannya, karena salah satu teman Sihar meninggal di tempat pertambangan itu dan kejadian itu disebabkan oleh kesalahan Rosana yang yang merupakan salah satu pemimpin perusahaan itu sangat dibenci oleh Sihar. Kejadian itu justru membuat Laila menjadi dekat dengan Sihar. Kasus kematian temannya itu diadukan Sihar ke pengadilan dan berkat bantuan Laila yang meminta tolong pada Yasmin, temannya. Akhirnya kasusu itu pun bisa dimenangkan. Kedekatan Sihar membuat Laila senang hingga mereka menjalin hubungan layaknya pasangan seorang kekasih. Dari situlah diketahui bahwa ternyata Sihar sudah mempunyai istri yang bernama Upik ynag memiliki fisik tidak sempurna hingga Sihar sempat merasa menyesal telah menikah. Namun cinta Laila tidak pernah surut. Mereka sering bertemu dan berkencan terutama di kantor. Hingga Laila juga sempat meminta pertolongan seorang yang pernah dicintai Laila yaitu Wisanggeni.
Setelah beberapa waktu menghilang Wisanggeni berubah namanya menjadi Saman yang tidak lain adalah sorang Pastur gereja. Dulu sebelum mengenal Sihar, Saman adalah kekasih Laila. Sehingga Karena Saman adalah orang yang dicintai Laila hingga mereka sempat menjalin hubungan layaknya seorang kekasih. Tetapi semua itu hanya tinggal kenangan masa lalu. Karena Saman telah meninggalkan Laila. Hingga baru ketemu setelah beberapa waktu. Bahkan kejadian itu sempat membuat Laila sedih. Tetapi sekarang kesedihan itu sudah terpendam semenjak Laila mengenal Sihar. Namun semenjak kemenangan kasus ini, Sihar tidak lagi menghubungi Laila. Bahkan setiap mereka berkencan selalu gagal, apalagi setelah istri Sihar sering mendapat telepon dari orang yang tidak dikenal ia selalu mematikan teleponnya. Hubungan mereka pun semakin kacau dan hambar tanpa sebuah pertemuan. Hal yang paling berat adalah ketika Laila mendengar bahwa Sihar akan pergi ke Amerika. Akhirnya mereka pun bersepakat bertemu di Central Park, New York. Demi Sihar, laki-laki yang dicintainya, di sana Laila akan bertempat tinggal di rumah temannya yang bernama Shokuntala. Sedangkan Sihar tinggal bersama istrinya. Hal itulah yang membuat penantiannya sia-sia. Meskipun Laila telah melibatkan teman-temannya untuk dimintai bantuan demi akan bertemu dengan Sihar kekasih hatinya itu namun semua itu hanya sia-sia. Karena Sihar merupakan laki-laki idaman Laila itu ternyata lebih memilih anak dan istrinya atau keluarganya daripada Laila perempuan yang sesungguhnya juga dicintainya. Setelah itu mereka tidak lagi pernah bertemu. Sedangkan Saman orang yang dulu pernah menjadi kekasih Laila sekarang dia justru menyayangi Yasmin yang juga merupakan sahabat Laila. Saman dan Yasmin memang saling mencintai tetapi mereka sayangnya juga tidak dapat bersatu. Karena Saman adalah seorang Pastur yang tidak akan pernah menikah. Sehingga apa yang dirasakan Saman hampir mirip dengan yang dirasakan Laila. Karena kisah cinta mereka berdua berada dalam penantian yang sia-sia dan tidak akan pernah bisa saling memiliki.

B. Makna Feminisme
Novel menceritakan tentang persamaan gender antara wanita dan pria. Hal itu tampak dalam pekerjaan Laila yang mempunyai dua pekerjaan yaitu sebagai pembuat profil dalam peruasahan tekstil dan sebagai satu-satunya pekerja wanita dalam proyek pengeboran minyak di Asia Pasifik yang bernama Petrolium Extension Servis. Laila mampu bekerja seperti layaknya para pekerja kain yang semuanya adalah para lelaki. Selain itu dalam novel ini juga terdapat makna feminisme yang tampak pada peran Laila. Wanita itu dalam kesehariannya memiliki peranan penting. Laila juga rela berkorban demi orang yang ia cintai meskipun laki-laki itu sudah mempunyai istri. Bahkan Sihar sebagai seorang laki-laki yang dicintai oleh Laila tega melupakan jasa seseorang yang begitu baiknya membebaskan Sihar dari tuntuan hukum. Laila yang berusaha meminta bantuan kasusnya, selain itu Laila juga meminta bantuan Saman yaitu seseorang yang pernah ia cintai. Setelah memenangkan kasus itu Sihar melupakan kebaikan Laila bahkan ia pergi ke Amerika dan sebelum keberangkatannya ia berjanji akan menemui Laila di Central Park tetapi hal itu hanya sia-sia karena Sihar membawa istrinya hingga Laila hanya menunggu tanpa kepastian. Keberadaan seorang wanita meskipun lemah dan selalu berada di bawah laki-laki akan tetapi perlu sekali dihargai dengan penuh kasih sayang. Karena pada dasarnya wanita mempunyai kelebihan yaitu kelembutan hati dalam menghadapi ketegaran hidup yang semua itu jarang sekali dimiliki oleh kaum laki-laki.

ANALISIS NOVEL
PARA PRIYAYI
Karya: Umar Kayen

A. Sinopsis
Novel ini menceritakan tentangb Wage anak desa yang berasal dari desa Wanalawas. Sejak dalam kandungan ia telah menjadi anak yatim. Sehingga ia hanya tinggal dengan ibunya yang biasa dipanggil “Mbok” oleh Wage. Kehidupan desa Wanalawas yang diliputi kemiskinan membuat Wage menjadi anak yang memiliki kepribadian lugu dan penurut. Ia rajin membantu ibunya yang bekerja sebagai penjual tempe. Ketika Wage berusia enam tahun, Ibunya menyerahkan Wage kepada langganannya yaitu kepada keluarga Sastradarsono yang tinggal di jalan Setenan di desa Wanagalih. Keluarga Sastradarsono adalah kelurga priyayi. Sastradarsono juga berasal dari keluarga yang kurang mampu yang akhirnya Sastradarsono dipelihara dan dirawat oleh keluarga priyayi juga. Hingga akhirnya Sastradarsono bisa menjadi seorang guru sekaligus seorang priyayi. Semenjak tinggal dengan keluarga Sastradarsono secara otomatis derajat seorang Wage yang merupakan anak desa itu menjadi naik. Oleh karena itu Sastradarsono pun mengubah nama Wage, namanya diganti menjadi Lantip, karena nama tersebut dipandang lebih bermakna dan lebih pantas untuk hidup di lingkungan priyayi. Walaupun Lantip hanyalah anak titipan namun Sastradarsono senantiasa memperlakukannya dengan baik. Selain itu mendapat perhatian cukup, Lantip juga dididik dalam keluarga dan di sekolah hingga Lantip bisa menjadi seoran yang berhasil masa depannya. Semua itu adalah berkat budi baik dari keluarga Sastradarsono.
Keluarga Sastradarsono banyak peristiwa suka maupun duka yang telah dirasakan oleh Lantip. Suasana duka dan kenyataan pahit yang ia juga mengetahui bahwa Bapaknya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Sastradarsono. Tetapi Bapaknya bukan seorang priyayi seperti yang ia kira. Justru Bapaknya meninggal dengan menyandang nama buruk karena ia merupakan salah satu anggota perampok. Tetapi kenyataan lain yang yang dirasakannya pada suasana di keluarga besar Sastradarsono membuat Lantip dapat mengobati luka dan kekecewaan di hatinya.
Anak desa Wanalawas itu melihat betapa keluarga besar yang telah merawatnya itu merupakan keluarga yang sangat bahagia. Sastradarsono adalah pemimpin keluarga yang sangat beruntung karena memiliki anak dan istri yang patuh dan taat padanya. Puncak kebahagiaan Sastradarsono di lengkapi dengan hadirnya tiga orang anak yang sangat berbakti dan membanggakannya. Nugroho anak pertamanya yang berhasil menyelesaikan sekolah hingga menjadi guru. Nugroho kemudian menikah dengan Susanti yang dikaruniai tiga orang anak, yaitu: Tiny, Maria dan Tomy. Tak lama kemudian Nugroho diangkat menjadi Opsir Tentara Republik yang ikut dalam peperangan. Ketika itu pula, Nugroho menerima kenyataan pahit karena Tony meninggal. Anak kedua Sastradarsono adalah Hardojo, seperti Nugroho, ia menjadi guru. Meskipun ia sempat gagal menikah, tetapi akhirnya ia menikah lagi dengan Sumarti yang dikaruniai seorang anak yang bernama Harimurti. Kemudian Lantip diangkat menjadi anak Harjono. Anak ketiga Sastradarsono adalah Sumini, ia juga seorang guru. Sumini menikah dengan Harjono yang dikaruniai anak.
Sesungguhnya Sastradarsono telah merawat dan membesarkan banyak anak dari saudaranya yaitu Sri, Darmin, Ngadiman dan Soenandar, ayah kandung Lantip serta Lantip itu sendiri. Lantip yang hanya anak angkat sempat dipandang sebelah mata oleh keluarga Sastradarsono. Namun pengabdiannya yang tulus mampu mematahkan pandangan itu. Keluarga Sastradarsono terkesan dengan anak desa Wanalawas itu karena Lantip mampu membantu menyelesaikan persoalan dalam keluarga selain ia tulus mengabdi dan berbakti keluarga Sastradarsono.

B. Makna Sosial
Novel ini menonjolkan makna sosial. Makna itu tercermin dalam kehidupan masyarakat Jawa yang kental dengan tradisi dan budaya. Novel ini mengisahkan tentang kehidupan keluarga priyayi. Priyayi merupakan suatu tingkatan sosial dalam masyarakat Jawa. Sehingga seorang priyayi senantiasa dipandang terhormat dan agung dalam masyarakat Jawa. Kesan priyayi justru ditunjukkan oleh Lantip yang bukan berasal dari keluarga priyayi. Sehingga ide cerita dalam novel ini terletak pada peranan Lantip yang merupakan anak yang berasal dari desa dan jauh dari kehidupan priyayi. Namun jalan hidup yang kemudian membawanya untuk masuk pada keluarga Sastradarsono, Lantip telah banyak melihat bahkan merasakan suka dan duka menjadi anggota keluarga priyayi. Justru dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam keluarga Sastradarsono Lantip mampu memerankan dirinya sebagai seorang priyayi. Hal itu terbukti ketika keluarga Sastradarsono sedang mengalami banyak masalah Lantip mampu membantu serta mengatasi untuk menyelesaikan permasalahan dalam keluarga Sastradarsono dengan penuh pengabdian dan ketulusan.

ANALISIS NOVEL
JANGAN MAIN-MAIN DENGAN KELAMINMU
Karya: Djenar Maesa Ayu

A. Sinopsis
Novel ini menceritakan seorang laki-laki mapan yang memiliki hasrat untuk berselingkuh dengan wanita lain yang lebih muda dan lebih cantik dari istrinya. Hingga laki-laki itu melakukan pengakuan bahwa selama lima tahun ia dan pacarnya menjalin hubungan layaknya pasangan kekasih. Mungkin pria mapan itu merasa kalau ia masih beristri. Tetapi bagi pria mapan dan pacarnya itu hubungan yang mereka jalin tidak hanya sekedar main-main apalagi sebatas hasrat seksual. Hanya membutuhkan beberapa waktu saja pria mapan itu sebenarnya mampu melakukan perselingkuhan tetapi ia justru telah melakukannya selama lima tahun. Sahabat pria mapan itu, pacar pria mapan itu serta istri pria mapan itu mampu mengungkapkan hal yang sama mungkin ia juga merasakan hal yang sama bahwa ada pengkhianatan dibalik semua peristiwa itu.
Pria mapan itu melakukan perselingkuhan karena ia merasa bosan dengan istrinya. Sehingga pria mapan itu tertarik untuk mencari pacar seorang wanita yang masih muda, menarik dan tentunya lebih cantik dari istrinya, karena bagi pria mapan itu, istrinya sudah semakin tua sehingga tubuhnya sudah tidak begitu menarik perhatiannya. Meskipun istrinya ingin berusaha mengubah penampilannya tetapi semua itu hanya sia-sia karena perubahan itu sudah terlalu fatal untuk diperbaiki. Keadaan istri yang membosankan itu membuat pria mapan itu tidak betah tinggal dirumah. Ia lebih suka pergi untuk bertemu klien atau karyawannya dalam bekerja. Bahkan yang lebih parah ia lebih suka berlama-lama di jalan dan terjebak kemacetan untuk menghilangkan rasa bosannya itu. Pria mapan itu sungguh tak ingin bertemu dengan istrinya apalagi untuk bercinta dengannya. Sehingga pria mapan itu memutuskan untuk berselingkuh dengan wanita cantik yang membuatnya senang, sayang dan cinta terhadap selingkuhannya itu yang berawal dari fisik yang menggodanya. Pria mapan itu tidak memahami urusan perasaan tetapi pemandangan. Tanpa mempedulikan dosa, perempuan cantik itu butuh uang sedangkan pria mapan itu butuh kesenangan.
Akhirnya istri pria mapan itu sadar bahwa perubahan buruk yang terjadi pada dirinya itu yang membuat bosan suaminya disebabkan oleh keadaan dirinya yang terlalu lelah mengatur dan mengurus pekerjaan rumah yang tidaklah mudah. Tetapi yang dilakukannya itu justru membuat hubungan dirinya dengan sang suami menjauh. Tetapi hal yang membuatnya heran yaitu sang istri hamil. Padahal pria mapan itu hanya menyentuhnya sekali dalam tiga sampai lima bulan karena ia kasihan. Mereka tidak membayangkan setelah melahirkan nanti mungkin hubungan mereka akan baik-baik saja setelah punyak anak. Dan mungkin setelah anaknya lahir perkawinan bisa terselamatkan. Sehingga mereka merasa bersyukur atas karunia itu dan jalan untuk menata kembali rumah tangga telah terbuka lebar. Karena karunia itu adalah jawaban dan upaya untuk mulai mencintai kembali rumah tangganya. Akhirnya laki-laki itu meminta kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahannya karena ia telah lama bermain-main.

B. Makna Psikologis
Novel ini mengandung makna psikologis. Makna itu tampak dengan adanya manusia yang terluka, marginal dan terkhianati. Karena tidak memiliki pijakan kokoh dalam dunia ini sehingga komitmen dapat berubah setiap saat, adanya ikatan yang tidak mengikat dan logika yang tidak ada validitasnya. Tokoh utama yaitu seorang pria mapan yang sudah beristri tetapi ia selingkuh dengan wanita lain yang lebih cantik dari istrinya. Ia lebih memilih berselingkuh dengan pacar gelapnya itu hingga diketahui oleh sahabatnya. Tetapi hal yang membuatnya heran adalah pengakuan bahwa istrinya hamil padahal ia jarang sekali bercinta dengan istrinya pun juga merasakan hal yang sama. Tetapi sang istri tidak ingin ia merendahkan anaknya seperti apa yang pernah ia lakukan padanya. Awalnya memang pria mapan menganggap kehamilan istrinya adalah derita baginya tetapi akhirnya ia sadar dan mampu mementukan pilihannya untuk meminta kesempatan lagi pada istrinya untuk memperbaiki kesalahannya. Karena ia merasa menyesal telah melakukan hal yang sia-sia selama bertahun-tahun. Akhirnya jati diri dari keempat karakter tersebut terbongkar melalui pengakuan masing-masing tokoh.

ANALISIS NOVEL
AYAT-AYAT CINTA
Karya: Habiburrahman El Shirazy

A. Sinopsis
Dalam novel Ayat – Ayat Cinta menceritakan Seorang mahasiswa S2 universitas Al Azhar yang berasal dari Indonesia itu ialah Fahri bin Abdullah Shiddiq. Di Mesir Fahri nama panggilan tinggal bersama Rudi, Syaiful, Hamdi dan Mishbah di Flat sederhana. Di flat itu mereka berkenalan dengan keluarga Girgis dan Maria lah salah satunya. Maria adalah gadis Kristen yang mampu menghafal surat Maryam dan Al Maidah. Maria dan Fahri semakin akrab begitu pula dengan Rudi, Syaiful, Hamdi dan Misbah,karena mereka saling tolong menolong dalam hal pendidikan. Suatu ketika Fahri pergi tallaqi dengan naik metro seperti biasanya. Di metro ia mengenal seorang gadis bercadar bernama Aisyah. Aisyah adalah gadis yang membela tiga orang bule yang naik metro untuk mendapatkan tempat duduk, akan tetapi sempat terjadi pertengkaran karena ada seorang penumpang metro yang sangat membenci bule yang menggangga bangsanya seorang teroris. Tetapi Aisyah dan Fahri mampu meyakinkan penumpang itu dan berhasil merayunya agar mengizinkan bule itu duduk dan dapat mengatasi ketegangan yang terjadi didalam metro.. Gadis bule itu bernama Allicia, ia sangat berterima kasih dengan Aisyah dan Fahri. Selain Aisyah dan Maria, Fahri juga mengenal seorang gadis yang juga mahasiswa Al Azhar dari Indonesia,yaitu Nurul.Nurul menaruh hati pada Fahri layaknya maria. Ketika malam tiba di bawah flat ada keributan yaitu si muka dingin Bahadur sedang menghajar anaknya yaitu Noura..Melihat kejadian itu Fahri dan Maria tidak tega hingga akhirnya mereka membantu Noura dengan menempatkannya di asrama bersama Nurul. Setelah itu Nurul juga sempat menulis surat untuk Fahri. Pada suatu hari ketika Fahri mengaji pada Syaikh Utsman, Fahri ditanya dan ditawari untuk menikah. Tak lama kemudian Fahri menyetujui tawaran Syaikh Ustman hingga Fahri diajak berkenalan dengan calon istrinya. Saat pertemuan pun tiba Fahri bertemu dengan calon istrinya yang ternyata adalah Aisyah yang keponakan Iqbal, orang Indonesia yang sangat dikenal oleh Fahri. Setelah perkenalan itu tak lama kemudian mereka menikah tanpa dihadiri orang tua Fahri. Mendengar berita itu Nurul kecewa karena sempat menyayangi Fahri dan yang paling kecewa lagi adalah Maria karena ia juga mencintai Fahri. Aisyah dan Fahri sangat bahagia mereka hidup bersama. Ketika kebahagiaan itu terjadi cobaanpun menghadangnya. Begitu sayangnya kepada Fahri, orang tua Nurul meminta Fahri untuk menikahinya tetapi Fahri mampu menolaknya dengan halus. Tetapi cobaan berat menimpanya ketika Fahri ditangkap untuk dipenjara atas tuduhan memperkosa Noura. Fahri difitnah dan dijebak. Akhrinya setelah melalui persidangan Fahri sadar bahwa Marialah kunci saksi yang bisa memenangkan persidangan itu. Tetapi sayangnya saat itu Maria sedang koma karena ia ditabrak oleh orang suruhan Bahadur. Selain itu, ia menderita penyakit dan kecewa atas kegagalan cintanya dengan Fahri. Banyak cara untuk membangunkan Maria, tetapi tetap saja gagal bahkan mereka hampir putus asa. Tetapi Asiyah punya ide bahwa jalan satu-satunya adalah menikahkan dengan suaminya yaitu Fahri. Demi Fahri Aisyah merelakan suaminya menikah dengan Maria. Fahri akhirnya menikah dan pernikahan itu membuat Maria bangun untuk membantu Fahri bebas dari penjara. Apa yang diharapkan telah tercapai dan mencintainya. Karena penyakitnya yang parah itu, Maria sakit lagi bahkan lebih parah lagi. Ketika di rumah sakit Maria bermimpi setelah bangun dari mimpi itu Maria meminta Aisyah dan Fahri membantunya berwudhu dan mengajarinya sholat. Dengan penuh heran dan iba mereka menuruti kemauan Maria. Setelah itu Maria berbaring dengan suara lirih Maria mengucapkan kalimat syahadat lalu perlahan pandangan matanya meredup dan akhirnya tertutup rapat. Aisyah dan Fahri tak kuasa menahan air matanya melihat Maria yang telah menghadap Tuhan dengan menyungging senyum di bibir dan wajah bersih seakan diselimuti cahaya.

B. Makna Religius
Novel ini menceritakan tentang Fahri muslimin yang berasal dari Indonesia mampu menjadi mahasiswa S2 di Universitas Al Azhar. Di Mesir ia tinggal bersama keempat temannya yang juga berasal dari Indonesia dan Mahasiswa Al Ahzar. Di flat tempat ia tinggal Fahri berkenalan dengan keluarga Birgis dan maria salah satunya. Ia gadis Kristen yang kuliah juga di Mesir ia cerdas dan pandai bergaul hingga mereka berteman dan maria mulai menyukai Fahri. Selain Maria juga mengenal Nurul yang juga mencintai Fahri, begitu juga Noura. Tetapi Noura merupakan gadis yang paling malang yang sempat ditolong Fahri dari siksaan Bahadur yaitu ayah Noura. Saat itu Fahri tinggal menyelesaikan tesis magisternya. Suatu saat ketika Fahri hendak tallaqi kepada Syaikh Ustman ia mendapat tawaran untuk menikah. Fahri dikenalkan dengan keponakan Iqbal yang merupakan orang Indonesia juga. Setelah Fahri setuju akhirnya ia bertemu dengan calon istrinya yang tak lain adalah Aisyah orang yang pernah dikenalnya di metro. Setelah itu mereka menikah tanpa dihadiri orang tua Fahri. Mereka hidup bahagia, tetapi ditengah kebahagiaan itu ada cobaan besar yang menghadang, Fahri ditangkap atas tuduhan pemerkosaan terhadap Noura tetapi karena semua itu hanya fitnah, istri dan teman-teman Fahri mampu menyelesaikan itu dan membebaskan Fahri. Tetapi kebebasan Fahri itu ditebus dengan pernikahannya dengan Maria. Fahri rela melakukan poligami begitu pula istrinya yang rela dipoligami demi sang suami karena hanya Maria lah saksi kunci dalam persidangan itu dan untuk membangunkan Maria yang sakit Aisyah merelakan Fahri menikah dengan Maria. Setelah itu Maria sakit lagi hingga akhirnya ia meninggal dengan kalimat syahadat, Maria memejamkan matanya. Fahri dan Aisyah pun menjalani hidupnya dengan bahagia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar